🎉 Pilihan Allah Pasti Yang Terbaik

Kamubisa memilih, tapi pilihan Allah selalu dan pasti yang terbaik. Jawaban dari istikharah yang dilakukan adalah berupa ketetapan hati, sehingga keraguan yang selama ini menyelimuti hati, berangsur hilang. Pikiran menjadi terang sehingga mampu mengambil keputusan, hati kita juga menjadi tenang ketika sudah memutuskan untuk memili Terkadangyang Baik Telah Allah Pertemukan Denganmu, Tapi Kamu Menolak Karena Alasan Masih Kurang Baik. Rara Rafidatun. 4 Agustus 2022 Kampusfavorit menjadi pilihan setelah lulus SMA. Pasti ada rasa bangga ketika berhasil mengenyam pendidikan di sana. Bahkan, ada yang rela menunda kuliah satu hingga dua tahun demi untuk berkuliah di kampus ternama. Oleh: Ghea Lidyaza Safitri Banyak alasan orang berbondong-bondong kulih di kampus favorit atau universitas negeri ternama. Lulusannya dianggap akan memiliki masa depan MasaSMA sudah akan berakhir di depan mata. Bagi kamu yang sudah menetapkan untuk melanjutkan proses seleksi penerimaan mahasiswa baru harus memilih jurusan yang sesuai dengan dirimu dan bakat yang kamu miliki. Maka kamu harus memiliki program kuliah yang bakal kamu pilih, kamu pasti minta pertimbangan orang tua yang akan membiayai biaya perkuliahan dan tentu mohon [] BAGIANTERBAIK BAGI SETIAP ORANG YANG DIPILIH TUHAN RHEMA HARI INI1 Petrus 2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: Seorang mahasiswa cerdas mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan Sesipersekolahan PASTI bagi Kawasan Tambun akan bermula pada 5 Januari 2009 (Isnin). Kepada para ibubapa dan murid-murid baru PASTI diucapkan "SELAMAT DATANG" ke PASTI.Semoga usaha kita yang kerdil ini untuk mendidik anak-anak pada peringkat awal dengan pendidikan Islam akan membuahkan hasil yang dapat menerangi dunia dengan para cendikiawan Islam yang unggul dan beriman kepada Allah. Alkisah seorang raja dan seorang menteri. Menterinya ini senantiasa berkata: "Yang terbaik adalah pilihan Allah SWT." Setiap ada orang yang terkena musibah, akan dinasihati oleh sang menteri dengan mengatakan, yang terbaik adalah pilihan Allah SWT. Suatu saat sang raja yang terkena musibah. Jari raja ini terputus karena PilihanAllah Pasti Yang TerbaikSyaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan:Janganlah engkau membenci sesuatu yang sudah Allah pilihkan untukmu, terkad DitambahkanBupati pilihan rakyat Minut dua periode ini, apapun yang kita kerjakan, harus yakin dan percaya, Tuhan akan memberikan yang terbaik. "Saya yakin dan percaya, rencana Tuhan pasti yang terbaik. Kita tidak usah ragu dan bimbang, semua pasti seijin Tuhan. Apapun yang terjadi pasti sesuai rencana. Apalagimemilih yang terbaik dari yang baik,,Subhanallah .. Seringkali kelalaian kita adalah memilih sesuatu pilihan itu dahulu dan kemudian barulah kita memohon kepada Allah agar pilihan yang kita lakukan merupakan pilihan yang terbaik. Walaupun Qadar untuk sesuatu Qada' itu boleh diubah tetapi adalah lebih baik jika kita mengetahui pilihan Pertamadari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu Qiro`ah, Kedua , memahami makna atau tafsirnya, Ketiga , mengamalkannya. Maka -misalnya- ketika seseorang baru meraih salah satu dari tiga perkara itu dengan baik, berarti baru meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al Karenaagama kita adalah yang terbaik. "Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus." [Al-An'am: 161]. Kitab kita, Al-Quran juga kitab yang terbaik. "Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat 1Lbqd. SAHABAT Abu Dzar Radhiyallahu anhu menjelaskan bahwa kondisi susah miskin atau sakit lebih baik bagi seorang hamba daripada kondisi senang kaya dan sehat Imam adz-Dzahabi dan Ibnu Katsir menukil dalam biografi sahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, bahwa pernah disampaikan kepada beliau tentang ucapan sahabat Abu Dzar Radhiyallahu anhu. “Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan kondisi sakit lebih aku sukai daripada kondisi sehat.” Maka al-Hasan bin Ali berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah, Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu selain keadaan yang telah Allah pilihkan untuknya. Inilah batasan sikap selalu ridha menerima segala ketentuan takdir Allah dalam semua keadaan yang Allah berlakukan bagi hamba-Nya.’” Karena biasanya seorang hamba lebih mudah bersabar menghadapi kesusahan daripada bersabar untuk tidak melanggar perintah Allah dalam keadaan senang dan lapang, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan akan merusak agama kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian, adalah jika perhiasan dunia dibentangkan diijadikan berlimpah bagi kalian sebagaimana perhiasan dunia dibentangkan bagi umat terdahulu sebelum kalian, maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga akibatnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka,” HR. Al-Bukhari dan Muslim Al-Hasan bin Ali mengomentari ucapan Abu Dzar di atas dengan pemahaman agama yang lebih tinggi dan merupakan konsekuensi suatu kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Yaitu ridha kepada Allah sebagai Rabb Pencipta, Pengatur, Pelindung, dan Penguasa bagi alam semesta, yang berarti ridha juga kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan takdir dan pilihan-Nya, serta kepada apa saja yang diberikan dan yang tidak diberikan oleh-Nya. Kitab Fiqhul Asma’il Husna Sikap ini merupakan ciri utama orang yang akan meraih manisnya dan sempurnanya iman, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan manisnya iman, orang yang ridha dengan Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb-Nya dan Islam sebagai agamanya serta Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai rasulnya,” Muslim Bersandar dan berserah diri kepada Allah adalah sebaik-baik usaha untuk mendapatkan kebaikan dan kecukupan dari-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala sendiri telah menjanjikan hal ini dalam QS. Ath-Thalaq ayat 3 bahwa Allah akan mencukupi orang yang senantiasa bertawakal kepada-Nya. Semoga kita senantiasa bersyukur dan ridha atas apa yang telah Allah tetapkan. [] Sumber Al-Mawaddah Jumadal Ula 1435 H. Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had al-Furqon al-Islami oleh muslimah Imam adz-Dzahabi[1] dan Ibnu Katsir[2] menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, bahwa pernah disampaikan kepada beliau tentang ucapan shahabat Abu Dzar, “Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan kondisi sakit lebih aku sukai daripada kondisi sehat”. Maka al-Hasan bin Ali berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu selain keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan untuknya. Inilah batasan sikap selalu ridha menerima semua ketentuan takdir dalam semua keadaan yang Allah Ta’ala berlakukan bagi hamba-Nya”.Atsar riwayat shahabat di atas menggambarkan tingginya pemahaman Islam para shahabat radhiyallahu anhum dan keutamaan mereka dalam semua segi kebaikan dalam agama[3].Dalam atsar ini shahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu menjelaskan bahwa kondisi susah miskin dan sakit lebih baik bagi seorang hamba daripada kondisi senang kaya dan sehat, karena biasanya seorang hamba lebih mudah bersabar menghadapi kesusahan daripada bersabar untk tidak melanggar perintah Allah Ta’ala dalam keadaan senang dan lapang, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan akan merusak agama kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika perhiasan dunia dibentangkan dijadikan berlimpah bagi kalian sebagaimana perhiasan dunia dibentangkan bagi umat terdahulu sebelum kalian, maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga akibatnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka”[4].Akan tetapi, dalam atsar ini, cucu Nabi shallallahu alaihi wa sallam, al-Hasan bin Ali radhiyallahu anhu mengomentari ucapan Abu Dzar di atas dengan pemahaman agama yang lebih tinggi dan merupakan konsekwensi suatu kedudukan yang sangat agung dalam Islam, yaitu ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb Pencipta, Pengatur, Pelindung dan Penguasa bagi alam semesta, yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan takdir dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[5].Sikap ini merupakan ciri utama orang yang akan meraih kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah I sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai rasulnya”[6].Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atasBersandar dan bersarah diri kepada Allah Ta’ala adalah sebaik-baik usaha untuk mendapatkan kebaikan dan kecukupan dari-Nya[7]. Allah berfirman {وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ} “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” QS ath-Thalaaq 3.Ridha dengan segala ketentuan dan pilihan Allah Ta’ala bagi hamba-Nya adalah termasuk bersangka baik kepada-Nya dan ini merupakan sebab utama Allah Ta’ala akan selalu melimpahkan kebaikan dan keutmaan bagi hamba-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Aku akan memperlakukan hamba-Ku sesuai dengan persangkaannya kepadaku”[8]. Makna hadits ini Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala[9].Takdir yang Allah Ta’ala tetapkan bagi hamba-Nya, baik berupa kemiskinan atau kekayaan, sehat atau sakit, kegagalan dalam usaha atau keberhasilan dan lain sebagainya, wajib diyakini bahwa itu semua adalah yang terbaik bagi hamba tersebut, karena Allah Ta’ala maha mengetahui bahwa di antara hamba-Nya ada yang akan semakin baik agamanya jika dia diberikan kemiskinan, sementara yang lain semakin baik dengan kekayaan, dan demikian seterusnya[10].Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi berkata,”Dunia harta tidaklah dilarang dicela pada zatnya, tapi karena dikhawatirkan harta itu menghalangi manusia untuk mencapai ridha Allah Ta’ala, sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut dipuji pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu umumnya tidak menghalangi dan menyibukkan manusia dari beribadah kepada Allah. Berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari beribadah kepada Allah Ta’ala, seperti Nabi Sulaiman alaihis salam, demikian pula sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam Utsman bin Affan dan Abdur Rahman bin Auf . Dan berapa banyak orang miskin yang kemiskinannya justru melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari kecintaan serta kedekatan kepada-Nya…”[11].Orang yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala adalah orang yang mampu memanfaatkan keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan baginya untuk meraih takwa dan kedekatan di sisi-Nya, maka jika diberi kekayaan dia bersyukur dan jika diberi kemiskinan dia bersabar. Allah Ta’ala berfirman, {إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ } “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” QS al-Hujuraat 13. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya membawa kebaikan untuk dirinya, dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”[12].وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمينKota Kendari, 7 Jumadal ula 1432 HPenulis Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MAArtikel Dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” 3/262.[2] Dalam kitab “al-Bidaayah wan nihaayah” 8/39.[3] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Fawa-id” hal. 141.[4] HSR al-Bukhari no. 2988 dan Muslim no. 2961.[5] Lihat kitab “Fiqul asma-il husna” hal. 81.[6] HSR Muslim no. 34.[7] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “badaa-i’ul fawa-id” 2/766.[8] HSR al-Bukhari no. 7066- cet. Daru Ibni Katsir dan Muslim no. 2675.[9] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” 2/312 dan “Tuhfatul ahwadzi” 7/53.[10] Lihat keterangan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab “’Uddatush shaabiriin” hal. 149-150.[11] Kitab “al-Aadaabusy syar’iyyah” 3/469.[12] HSR Muslim no. 2999. Pilihan Allah Ketika kita memilih menjadi penghafal Al-Qur'an, hakikatnya adalah Allah yang memilih! Bersyukurlah atas nikmat karunia besar tersebut, Allah telah memilih kita. Yakinkan diri, bangun kesadaran diri ... bahwa menjadi penghafal Al-Qur'an adalah pilihan Allah. Apa yang Allah pilihkan untuk menjadi takdir kita, pasti itu yang terbaik! Sebab apa yang engkau inginkan, belum tentu menjadi kebaikan untukmu. Namun apa yang Allah pilihkan, niscaya merupakan kebaikan untukmu. Ridha dengan pilihan Allah لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ "Janganlah karena keterlambatan datangnya pemberian-Nya kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa; sebab Dia telah menjamin bagimu suatu ijabah pengabulan doa dalam apa-apa yang Dia pilihkan bagimu, bukan dalam apa-apa yang engkau pilih untuk dirimu; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki." Al Hikam-Ibnu At-Thoilaah -Team Sohibul Qur'an-Donasi yayasan Sohibul Qur'an No rek mandiri 129 00 10397756 . . Facebook pesantren tahfidz Sohibul Qur'an YouTube Siroh Sohibul Qur'an

pilihan allah pasti yang terbaik