⭐ Istri Lebih Mementingkan Keluarganya Daripada Suami

Makaapabila pihak istri merasa takut terjadi sesuatu hal yang tidak baik kerena suaminya lebih mementingkan urusan pekerjaannya dari pada keluarga, lebih baik kalau istri mengadakan perdamaian dengan suaminya. 75. Perdamaian yang dimaksud adalah istri yang mengurangi hak-haknya yang perlu ditunaikan oleh suami. Seorangisteri acuan Islam seorang isteri yang solehah, bukan setakat taat pada suami. Hebat di ranjang, itu bergantung pada pasangan tersebut juga. Kepuasan seks memang perlu tetapi itu bukanlah sebab utama orang Islam berkahwin. Perkahwinan adalah satu ibadah, dan bernikah itu juga untuk mendapat keredhaan Allah dan mendapatkan zuriat. BismillahirrohmanirrohimKewajiban Istri dalam Pandangan Syariat. Setiap pasangan suami istri pastinya ingin menjadikan keluarganya sakinah mawadah warohmah atau biasa disebut samawa. Keluarga samawa akan mudah di dapat jika mengetahui kewajiban dan juga hak masing masing pasangan. Terkadang kebanyakan seorang istri kurang mengetahui kewajibannya, Diaselalu mengutamakan keluarganya karena di situ selalu ada kamu, perempuan yang paling dicintainya. Itulah 6 tanda suami kamu cinta mati sama kamu. Kamu harus mensyukuri itu jika kamu sudah menemukan tanda-tanda di atas. Disclaimer: Artikel ini sudah diterbitkan pada laman Popmama dengan judul "6 Tanda Suami Kamu Cinta Mati Sama Kamu" PercintaanDengan Adik Isteri. Saya, Andry (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pria berumur 35 tahun dan telah berkeluarga, istri saya seumur dengan saya dan kami telah dikarunia 2 orang putra. Istri saya adalah anak ke 2 dari empat saudara yang kebetulan semuanya wanita dan semuanya telah menikah serta dikarunia putra-putri yang relatif Suamisuami harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal itulah yang sampai hari ini terjadi. Dan tak sedikit dari pernikahan hancur justru karena suami atau istri terlalu lelah bekerja. Atau terlalu mementingkan pekerjaan di atas dari urusan keluarganya. 4. Suami istri menjadi semakin egois akumengurus ibu mertua dan hadapin suami sayang ibunya, bgaimna cranya membuat suami itu mw membela istri, cara menghadapi suami mementingkan keluarganya, cara menghadapi suami selalu membela keluarganya, cerita suami lebih memilih keluarga dibanding anak dan istri, dp suami nyakitin istri lagi hamil, gimana bangun rasa kasih sayang SesumbarPilih Anak daripada Istri, Sule Tak Kuasa Tahan Air Mata Kini Diceraikan Nathalie Holscher hingga Alami Gangguan Psikis: Saya Nanti Tua Sama Siapa Sebelumnya mementingkan anak, Sule akhirnya tahu bahwa Putri Delina hingga Rizky Febian akan memiliki keluarganya sendiri. Semua baru terungkap setelah NathSebelumnya, Sule disebut tak IniHukum Istri Lebih Mementingkan Keluarganya daripada Suami Menurut Islam, Wajib Tahu! Sumitro Amir Views Artikel Januari 01, 2022 Sering dilakukan, sebenarnya, apa hukum istri lebih mementingkan keluarganya daripada suami? Abstract Laki-laki dan perempuan diciptakan berpasang-pasangan untuk bisa saling membantu satu sama lain. Untuk menopang kehidupan keluarga maka mereka harus bekerja, memang yang diwajibkan untuk menafkahi keluarga adalah seorang suami akan tetapi si isteri boleh juga ikut bekerja apabila nafkah yang diberikan suami kurang mencukupi atau tidak memadai. IstrimuLebih Mementingkan Orangtuanya Daripada Kamu, Artinya Istrimu Ingin Kedua Orang Tuanya Masuk Neraka IstrimuLebih Mementingkan Orangtuanya Daripada Suami Klinik F3 Cinoling 20.25 Hikmah. “demikian itu diakibatkan banyaknya hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri dan juga pula tidak mampunya istri buat berterima kasih kepada suaminya. dalam hadits ini terdapat ungkapan yang sangat hiperbola menunjukkan wajibnya istri buat menunaikan hak kI76. loading...Nafkah keluarga tetap wajib meski kepala keluarga jatuh miskin. Sedangkan nafkah orangtua hanya wajib jika si anak mampu. Foto/Ilustrasi Hukum suami lebih mementingkan keluarganya daripada istrinya terus menjadi perbincangan. Memang, membangun bahtera rumah tangga tidaklah berarti melupakan orangtua dan kerabat. Semua hak ini tetap bisa diberikan, namun perlu juga bagi sang suami untuk memahami skala prioritas sehingga tidak menimbulkan permasalahan di keluarga. Di sisi lain, seorang istri hendaknya bisa mendukung suaminya untuk melakukan berbagai ketaatan kepada Allah SWT, termasuk berbakti kepada kedua orangtuanya birrul wâlidain –terutama ibunya- dan menyambung tali kekerabatan silaturahim.Di samping wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, seorang suami juga wajib untuk membantu menafkahi orangtuanya jika mereka membutuhkan. Baca Juga Ibnul Mundzir mengatakan, “Para Ulama sepakat tentang kewajiban menafkahi kedua orangtua yang tidak punya pekerjaan atau kekayaan dengan harta anak mereka.” Di antara dalil yang menjelaskannya adalah hadits berikutأَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ إِنَّ لِي مَالًا وَوَالِدًا، وَإِنَّ وَالِدِي يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِي؟ قَالَ ” أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ، إِنَّ أَوْلَادَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ، فَكُلُوا مِنْ كَسْبِ أَوْلَادِكُمْDiriwayatkan bahwa seorang badui datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan, “Saya memiliki harta dan orangtua, dan ayah saya ingin menghabiskan harta saya.” Maka Nabi SAW menjawab, “Engkau dan hartamu boleh dipakai orangtuamu. Sesungguhnya, anak-anak kalian termasuk penghasilan terbaik, maka makanlah dari penghasilan anak-anak kalian.” [HR Ahmad, no. 7001. Hadits ini dihukumi shahih oleh Ahmad Syakir, al-Albani dan Syu’aib al-Arnauth rahimahumullah]Hanya saja, menafkahi orangtua tidaklah wajib atas anak kecuali dengan dua syarat berikut Pertama, orangtua miskin dan membutuhkan bantuan. Kedua, si anak kaya dan memiliki kelebihan nafkah setelah nafkah yang diberikannya kepada keluarganya. Syarat ini disepakati oleh para kedua nafkah ini bisa dipenuhi, maka wajib bagi anak untuk melakukannya. Namun jika hartanya hanya cukup untuk salah satu nafkah saja, maka nafkah istri dan anaknya harus didahulukan daripada nafkah orangtuanya; karena nafkah keluarga adalah konsekuensi dari akad nikah, sehingga merupakan hak manusia. Baca Juga Sedangkan nafkah orangtua adalah bentuk kebaktian dan bantuan, sehingga masuk kategori hak Allah SWT. Dan hak manusia didahulukan atas hak Allah Azza wa Jalla; karena hak manusia didasari musyahhah saling menuntut sedangkan hak Allah didasari musâmahah pengampunan. Al-Amidi mengatakan "Hak manusia didahulukan atas hak-hak Allah Azza wa Jalla".Khusus tentang prioritas dalam nafkah, Nabi SAW bersabda,ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَMulailah dengan menyedekahi dirimu sendiri. Jika ada sisa, sedekahilah keluargamu. Dan jika masih ada sisa lagi berikanlah kepada kerabatmu. [HR Muslim, no. 997] Mendahulukan Nafkah Anak IstriAsy-Syaukani dalam "Nailul Authar" menyatakan nafkah keluarga juga tetap wajib meski kepala keluarga jatuh miskin. Sedangkan nafkah orangtua hanya wajib jika si anak mampu. Dan para ulama telah sepakat akan wajibnya mendahulukan nafkah anak istri sebelum orangtua. Apakah Moms pernah merasa suami lebih mementingkan keluarganya dibandingkan dengan istrinya? Lalu, sebenarnya bagaimana menyikapi suami yang lebih mementingkan keluarganya dibandingkan dengan istrinya? Yuk simak penjelasan dibawah ini, Moms! Hubungan yang terjalin antara suami dengan kedua orang tua atau saudaranya merupakan hal yang wajar. Hal ini karena, orang tua yang telah membesarkannya, dan tentu ia juga juga tumbuh dengan saudara-saudaranya. Akan tetapi, hal ini menjadi tidak wajar jika suami mementingkan keluarganya dibandingkan istri. Tak jarang, suami tidak menyadari bahwa prioritasnya telah berubah setelah menikah dan membangun rumah tangga. Peran suami sebagai pemimpin bagi istri dan anak-anaknya harus tetap didahulukan setelah menikah. Akan tetapi, bukan berarti orang tua dan keluarga suami tidak penting, namun terdapat tertentu yang tetap harus dijaga oleh kedua belah pihak, baik pihak istri maupun pihak keluarga suami. Bentuk Tanggung Jawab Suami Sebelum membahas bagaimana menyikapi suami yang mementingkan keluarganya, berikut beberapa bentuk tanggung jawab suami yang “umum” di Indonesia, antara lain Menafkahi Keluarga Ini merupakan sebuah hal yang umum bahwa seorang suami bertanggung jawab memberikan nafkah kepada keluarga. Bahkan apabila sang istri bisa mencari nafkah sendiri, seorang suami tetap diwajibkan untuk menafkahi istri dan keluarga semampunya. Nafkah pada keluarga tidak harus dalam jumlah yang besar. Yang terpenting yaitu mencukupi kebutuhan harian istri serta anak. Persoalan mengenai nafkah inilah yang menjadi salah satu dari sekian alasan yang mengakibatkan mengapa suami dianggap pemimpin di rumah tangga. Menyediakan Tempat Tinggal Sebagai seorang suami, tanggung jawab tidak hanya sebatas memberikan nafkah. Apabila dijelaskan satu per satu, tanggung jawab terhadap keluarga tidaklah sedikit. Menyediakan tempat tinggal bagi keluarga adalah bentuk tanggung jawab terhadap keluarga yang perlu suami lakukan. Lalu, bagaimana dengan suami yang belum mampu menyiapkan tempat tinggal untuk istri dan anaknya? Suami dapat mengontrak rumah sesuai dengan kemampuannya. Hal ini karena harga rumah saat ini sangat berbeda dengan harga rumah zaman dahulu. Memberikan Proteksi Proteksi atau keamanan merupakan nikmat yang besar yang harus disyukuri. Tanpa adanya keamanan, banyak hal yang bisa terabaikan. Pendidikan juga tidak dapat terselenggara tanpa adanya keamanan. Seorang suami harus dapat memberikan keamanan pada istri dan anaknya. Keamanan ini dapat dalam bentuk penjagaan terhadap martabat istrinya. Umumnya, seorang wanita yang mempunyai suami tidak akan diganggu oleh orang lain. Meskipun suaminya tidak melakukan apa-apa. Akan tetapi, pada saat seorang wanita berstatus janda, maka banyak sekali gangguan yang dialami. Seperti gunjingan dari sesama wanita bahkan gangguan dari lelaki tidak bertanggung jawab. Hal inilah yang kadang tidak disadari oleh seorang istri bahwa statusnya yang mempunyai suami itu sangat penting dan memberikan keamanan. Mendidik Anggota Keluarga Walaupun seorang ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya, seorang suami lah yang tetap menjadi penanggung jawab atas pendidikan istri dan anaknya. Sehingga tidak benar apabila pendidikan anak hanya dibebankan pada seorang istri. Suami juga mempunyai peran yang besar untuk menentukan pendidikan anak-anak. Berbuat Baik Pada Keluarga Sudah merupakan sebuah kewajiban bagi seorang suami untuk berbuat baik pada keluarganya, hal ini karena merekalah orang yang paling dekat kekerabatannya. Inilah mengapa apabila Moms ingin mengetahui sifat asli seseorang, maka Moms bisa bertanya atau melihat sendiri bagaimana seseorang itu berperilaku terhadap keluarganya. Hal ini karena keluarga merupakan orang yang paling dekat dan sering dijumpai. Bagaimana Sebaiknya Menyikapi Suami yang Mementingkan Keluarganya? Komunikasikan Bersama Suami yang Mementingkan Keluarganya Komunikasi mempunyai peran penting dalam membangun keharmonisan dalam rumah tangga. Sebagai seorang istri, Moms dapat berbicara secara terbuka mengenai perasaannya mengenai ketimpangan yang dirasakan dengan cara yang lembut dan tidak menyakiti. Hal ini tidak menutup kemungkinan suami bisa sedikit berubah. Hindari Konflik dengan Saudara Suami Perlu Moms sadari bahwa suami dan keluarganya merupakan bagian dari kehidupan istri dalam fase pernikahan. Sampai kapanpun suami akan tetap memerlukan keluarganya. Yang perlu Moms butuhkan hanya kemauan untuk menjadi bagian dari keluarganya dan menempatkan diri sebagai anggota keluarganya dengan cara yang baik. Tidak Tinggal Pada Satu Atap Setelah menikah, banyak yang menyarankan bahwa pasangan suami istri untuk tinggal terpisah dari keluarganya. Hal ini bertujuan untuk keduanya menjadi lebih mandiri. Tinggal terpisah adalah salah satu bentuk menghindari konflik yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Berikan Perhatian Lebih Jika Suami Mementingkan Keluarganya Mungkin terdapat suatu alasan mengapa suami lebih mementingkan keluarganya dibandingkan dengan istri. Untuk mengatasi hal tersebut, Moms bisa mencoba untuk memberi perhatian lebih kepada suami. Harapannya, suami dapat menyadari bahwa selain keluarganya, ia juga mempunyai istri yang harus menjadi prioritasnya. Hindari Bersikap Emosional Apabila suami mementingkan keluarganya, penting bagi seorang istri untuk tetap menghormati keluarga dan saudara-saudara dari suami. Sebaiknya hindari bersikap emosional dalam keadaan apapun. Jangan marah jika suami telah menunjukkan tanda-tanda bahwa perhatiannya lebih banyak dihabiskan untuk keluarganya, dan penting juga bagi Moms untuk tetap tenang. Berikan Suami Waktu Bersama Keluarganya Pasalnya, tidak ada suami yang suka dengan istri yang terlalu banyak menuntut. Waktu yang ia punya bukan sepenuhnya milik istrinya. Suami juga perlu meluangkan waktu dan pikirannya untuk pekerjaan, teman-teman, dan keluarganya. Seorang istri harus memahami hal tersebut. Tidak Perlu Merasa Tersaingi Karena hukum suami lebih mementingkan keluarganya dibandingkan dengan istrinya adalah boleh, seorang istri tidak seharusnya menganggap keluarga suami sebagai saingan. Moms dapat mencari tahu bagaimana cara yang tepat untuk menempatkan diri di tengah keluarganya. Hal ini merupakan salah satu cara menjaga keharmonisan dalam berumah tangga. Jangan Membenci Apabila Suami Mementingkan Keluarganya Tidak hanya menimbulkan konflik, memperlihatkan sikap kebencian juga bukan perilaku yang baik khususnya kepada mertua. Membenci hanya akan membuat masalah menjadi panjang dan menciptakan konflik baru. Sebaiknya Moms berusaha untuk selalu bersikap baik dan hormat kepada mertua dan juga keluarganya. Berikan Pengertian Banyak suami mungkin mengerti prioritas setelah berumah tangga. Akan tetapi apabila tidak, berilah pengertian. Beri pengertian bahwa sebagai anak laki-laki, suami memang sebaiknya selalu berbakti dan membantu keluarga. Akan tetapi, ingatkan pula bahwa ada istri yang juga harus dipentingkan kebutuhannya. Sabar Jika Suami Mementingkan Keluarganya Sabar merupakan akar penyelesaian dari semua masalah rumah tangga. Dengan bersabar, hati dan pikiran akan menjadi tenang sehingga dapat berpikir jernih dan tidak mudah tersulut emosi. Perlu Moms yakini bahwa akan ada suatu hal yang membuatnya berubah menjadi suami yang lebih baik. Itulah beberapa cara menyikapi suami yang mementingkan keluarganya. Semoga bermanfaat ya! Baca Juga Suami Berbohong Kepada Istri, Apa Penyebab dan Cara Menghadapinya? Momslyfe tidak mempunyai wewenang untuk menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Untuk konsultasi medis disarankan agar Moms mengunjungi dokter atau tenaga medis terdekat. Jawaban Ustadzah Husna Hidayati, MHI Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh Setelah memasuki kehidupan rumah tangga, suami istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Keduanya sudah berpisah dengan kedua orang tua masing-masing dan sudah memiliki rumah tangga sendiri yang pemimpin dalam rumah tangga baru tersebut adalah suami. Seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangga, bagi istri, juga bagi anak-anaknya. Allah SWT memberi keutamaan bagi laki-laki yang lebih besar daripada perempuan. Karena dialah yang berkewajiban memberi nafkah dan mendidik istri dan keluarganya. Allah SWT berfirman “Laki-laki suami itu pelindung bagi perempuan isteri, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka laki-laki atas sebagian yang lain perempuan, dan karena mereka laki-laki telah memberikan nafkah dan hartanya.” QS An-Nisaa’ 34. Meski suami maupun istri memiliki hak dan kewajiban, namun suami mempunyai kelebinan atas isterinya. Allah SWT berfirman “Dan mereka para perempuan memiliki hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang pantas. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana,. QS Al-Baqarah 228. Namun, ada beberapa istri yang belum memahami sepenuhnya atas hal tersebut, sehingga masih saja menomorsatukan keluarganya dibanding dengan suaminya hadits Nabi SAW “Tidak boleh seorang perempuan puasa sunnah sedangkan suaminya ada tidak safar kecuali dengan izinnya. Tidak boleh ia mengizinkan seseorang memasuki rumahnya kecuali dengan izinnya dan apabila ia mengintakan harta dari usaha suaminya tanpa perintahnya, maka separuh ganjarannya adalah untuk suaminya.” Sebagaimana hadist Nabi SAW tentang keutamaan suami di atas, maka seorang istri yang lebih mementingkan keluarganya daripada suaminya harus diberi pengertian dan kefahaman bahwa yang demikian itu tidak dibolehkan dan hukumnya menjadi haram. Syeikhul Islam lbnu Taimiyyah mengatakan “Seorang perempuan Jika telah menikah, maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua.” Majmu’ Fatawa 32/261. Menurut Alquran dan hadits, istri yang salehah adalah ia yang mentaati perkataan suami. Suami merupakan imam dan pemimpin bagi wanita yang telah menikah. Dalam surat An Nisa ayat 34, Allah berfirman, “Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka laki-laki atas Sebagian yang lain wanita dan karena mereka laki-laki telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang salehah ialah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki. Tentunya yang harus diikuti adalah aturan ataupun nasihat yang sejalan dengan apa yang sudah diajarkan dan diperintahkan Allah SWT. Mentaati apa yang disampaikan dan diperintahkan suami bukan semata-mata karena dia adalah suami, melainkan, Karena memang diperintah pula oleh Allah sama seperti kewajiban kewajiban yang lain sebelumnya, ketaatan ini harus hadir atas dasar karena Allah SWT. Dalam ayat yang sama surah annisa ayat 34, Allah berfirman, “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar”. Kewajiban mentaati suami bukan berarti harus memutus tali silaturahim kepada orang tua. Syekh Kamil Muhammad Uwaidah dalam buku Al Jami fi Fiqh An Nisaa mengatakan seorang perempuan, sebagaimana laki-laki, mempunyai kewajiban sama berbakti terhadap orangtua. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA menguatkan hal itu. Penghormatan terhadap ibu dan ayah sangat ditekankan oleh Rasulullah. Masih tentang hadits tersebut, Imam Nawawi mengatakan, hadis yang disepakati kesahihannya itu memerintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabat. Dan, yang paling berhak mendapatkannya adalah ibu, lalu bapak, kemudian disusul kerabat lainnya. Namun, menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam kumpulan fatwanya yang terangkum di Fatawa Muashirah mengatakan bahwa memang benar, taat kepada orang tua bagi seorang perempuan hukumnya wajib. Tetapi, kewajiban tersebut dibatasi selama yang bersangkutan belum menikah. Bila sudah berkeluarga, seorang istri diharuskan lebih mengutamakan taat kepada suami. Selama ketaatan itu masih berada di koridor syariat dan tidak melanggar perintah agama. Allah SWT berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kKaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka laki-laki atas sebahagian yang lain wanita”. QS an-Nisaa’ [4] 34. Meski demikian, kewajiban menaati suami bukan berarti harus memutus tali silaturahim kepada orangtua atau mendurhakai mereka. Seorang suami dituntut mampu menjaga hubungan baik antara istri dan keluarganya. Ikhtiar itu kini tentunya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi bisa diupayakan sangat mudah. Menyambung komunikasi dan hubungan istri dan keluarga bisa lewat telepon, misalnya. Tidak harus terus menerus mengunjungi dan berada di rumah orangyuanya sampai meninggalkan suaminya. Hukum istri lebih mementingkan keluarganya daripada suami akan tergambar dalam ketaatan istri kepada suami. Sebab, setelah wali perempuan isteri menyerahkan kepada suami, maka kewajiban taat kepada suami menjadi hak tertinggi yang harus dipenuhi, setelah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana hadist Nabi SAW tentang keutamaan suami di atas, maka seorang istri yang lebih mementingkan keluarganya daripada suami tidak dibolehkan dan hukumnya menjadi haram. Syeikhul Islam lbnu Taimiyyah mengatakan “Seorang perempuan jika telah menikah, maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua.” Majmu’ Fatawa 32/261. Syekh Kamil Muhammad Uwaidah dalam buku Al Jami fi Fiqh An Nisaa mengatakan, seorang perempuan sebagaimana laki-laki, mempunyai kewajiban sama berbakti terhadap orangtua. Penghormatan terhadap ibu dan ayah sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW. Namun, menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam kumpulan fatwanya yang terangkum di Fatawa Mushirah menerangkan bahwa kewajiban tersebut dibatasi selama yang bersangkutan belum menikah. Bila sudah berkeluarga, seorang istri dinaruskan lebih mengutamakan taat kepada suami. Saat taat pada suami, istri juga akan diberi pahala surga. Rasulullah SAW bersabda “Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya”. Kranya akan lebih bijak jika istri anda ajak bicara dari hati kehati dan jelaskan keutamaan-keutamaan yang harus dilakukan oleh seorang perempuan istri setelah dia sudah menikah dan hidup bersama dalam rumah suaminya. Semoga hal yang terjadi selama ini adalah hanya karena kekurang fahaman istri anda terhadap hak dan kewajibannya yang harus ditunaikan. InsyaAllah jika sudah diberi pemahaman, ia akan berubah lebih baik dan mentaati suaminya. Wallaahu Alam.

istri lebih mementingkan keluarganya daripada suami